Peristiwa Aneh dan Luarbiasa
Posted by suksmono on June 2, 2010
Saya pertama kali mendengar tentang sayembara itu sekitar awal tahun 2000-an, pada saat menunggu kelulusan program S3. Saat itu sebenarnya hampir semua persyaratan, termasuk publikasi, sudah saya penuhi dan kuliah wajib sudah saya ambil semua. Sambil menunggu sinyal maju sidang dari sensei, tahun terakhir itu saya isi dengan mengambil kuliah macam-macam, mulai dari yang biasa-biasa (tetapi mulai agak aneh); seperti teori relativitas umum, medan kuantum, sampai yang “sangat aneh” macam topologi, teori grup, dan analisis non-linier. Saya pikir, sayang kesempatan ini dilewatkan; setelah bekerja di bidang rekayasa, kapanlagi bisa belajar sains kalau tidak sekarang.
Pada tingkat pascasarjana, kebanyakan nilai diambil dari take-home test, kecuali relativitas umum yang ujiannya dilakukan di kelas. Salah satu dari kuliah “aneh” ini disampaikan oleh dosen tamu dari Jerman. Tugas untuk penilaian akhir diambil dari situs dosen; saya sendiri sudah lupa dulu tugasnya disuruh menghitung apa. Saya hanya ingat bahwa dosen tamu ini menuliskan sesuatu yang melekat di pikiran saya hingga kini, yang kurang lebih berbunyi sbb: ”anda ingin kaya? klik tautan berikut ini”, dan tulisan itu nge-link ke situs Clay Institute yang saat itu mengumumkan sayembara Millenium Prize Problem.
Melihat bobot dari 7 soal dalam sayembara tersebut, para matematikawan sekalipun tidak menyangka akan ada yang bisa dipecahkan dalam waktu satu dasawarsa. Maka, adalah sebuah kejutan saat Grisha Perelman (Grigori Yakovlevich Perelman) berhasil memecahkan masalah konjektur Poincare dan diumumkan menjadi pemenang pertama pada bulan Maret 2010 yang lalu. Yang lebih luarbiasa lagi, Perelman yang sebelumnya dinobatkan sebagai pemenang Fields Medal tahun 2006 tetapi menolak untuk menerimanya, hingga hari ini tidak juga menunjukkan tanda-tanda akan mengambil hadiah 1 juta dollar yang dijanjikan Clay Institute.
detu said
apa yakin Perelman mau nerima ?
wong dulu Field Medal aja ditolak..
suksmono said
Yah, itu memang hak masing-masing. Sebuah pelajaran baik bagi para ilmuwan, lurus … lurus … dan lurus … Perelman sudah menunaikan seluruh tugas hidupnya dengan baik. Karyanya adalah masterpiece, dirinya juga masterpiece. Sejarah peradaban manusia akan mengenangnya hingga akhir zaman, seperti kita sekarang mengenang Phytagoras, Gauss, dll.
edwidianto said
Anak saya sering nanya, kalau film 4 dimensi itu seperti apa sih? Trus kalau 5 dimensi pasti lebih keren yah? Duh, mungkin harus sekelas Perelman saya baru bisa menjawabnya