Ikebana@ITU.Meeting
Posted by suksmono on July 4, 2008
Meskipun CS (compressive sensing) baru saja lahir, tapi pertumbuhannya luar biasa pesat. Situs blog Igor Carron hampir setiap hari melaporkan munculnya ide-ide baru dalam CS. Pada presentasi ini, pertama-tama disampaikan beberapa inisiatif pembuatan sistem pencitraan berbasis CS; dimulai dengan hasil penelitian Candes-Romberg-Tao tentang rekonstruksi eksak dari citra phantom (citra uji untuk tomografi) dari data parsial kawasan frekuensi. Menurut saya, inilah tonggak sejarah jika orang ingin mengaitkan CS dengan pencitraan medis. Kemudian disinggung sekilas single-pixel-camera dari Rice University, Sparse MRI dari Stanford, dan tak lupa juga disampaikan inisiatif kelompok riset di ITB-TU Delft untuk membuat compressive SFCW-GPR.
presentasi pada ITU Meeting
Selama ini, standard de facto yang dipakai dalam penyimpanan rekam-medis citra kedokteran adalah DICOM. Disamping itu, JPEG2000 juga dapat dipakai karena kemampuan skalabilitas-nya; dapat mengkompresi citra dari yang merugi (lossy) sampai yang tak merugi (lossless). Kedua standard ini tentu didasarkan pada paradigma lama: kumpulkan seluruh data citra, kemudian lakukan kompresi. Cara ini tidak efisien karena sebagian besar data yang dikumpulkan akan dibuang saat kompresi. CS memberikan solusi dengan menggabungkan kompresi dan pencuplikan sekaligus.
Teknik CS yang sangat berbeda dari sebelumnya ini tentu akan mengakibatkan perubahan atau bahkan redefinisi standard pencitraan medis. Sampai hari ini orang masih belum memikirkan dampak CS pada standard peralatan pencitraan medis maupun yang lain. Barangkali karena masih terlalu jauh, atau karena semua peneliti CS berlomba menggali bidang ilmu baru ini dari aspek lain yang lebih mendasar. Singkat kata presentasi ini cukup mendapat tanggapan dari peserta.
Nadia-sensei sedang mengajari cara menentukan dan memotong bahan
ikebana karya beberapa peserta
Apa hubungannya dengan ikebana? Pada event kali ini dibuka stand belajar ikebana secara gratis. Peserta cukup mendaftar, semua bahan sudah siap, dengan metode belajar-langsung-praktek: learning-by-doing. Sampai siang hari, baru tiga peserta yang mendaftar; dua diantaranya dari Indonesia, yaitu: saya dan Pak Soegi (Prof. Soegijardjo Soegijoko). Ikebana adalah seni merangkai bunga dari Jepang dan belajar budaya negeri Sakura ini adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Lumayan untuk meredakan migrain yang sudah seminggu ini bersarang di kepala.



Nadia El Borai said
Very nice pictures. I recognised myself. I am not sure what it says I just hope you enjoyed the flowers
Nadia
suksmono said
Hi Nadia-sensei, many thanks for your visit.
The story is about our last ITU meeting in Tokyo, the paper I have presented, and free Ikebana’s short-course you taught. I said that learning (and doing) Ikebana relieves my headache, probably because it makes the left- and the right- brain in balance.
Hope to meet you again and learn more about Ikebana.
–
Andriyan
Nadia El Borai said
Thank you for your reply I am happy to hear your comment. You analysed the role of ikebana and explained why it has been such a great help in my life here.
Please take time to concentrated on doing your own ikebana. I will have to try and form a group for people to encourage each other.
All the best
Nadia