Pencitraan Sintesis (1)
Posted by suksmono on June 22, 2008
Pada tahun 1930-an, hubungan telepon menggunakan radio telah mulai dipakai secara komersil. Bell Telephone adalah salah satu operator besar yang merintis bisnis dalam bidang ini, dengan menawarkan sambungan telepon radio antar benua.
Disamping kemampuannya menghubungkan dua orang yang ingin berkomunikasi yang letaknya sangat berjauhan, komunikasi radio menghadapi masalah teknis cukup penting akibat gangguan dari sumber yang tak diketahui. Bell Telephone Lab di Homdel (NJ) menugaskan Karl Jansky, salah seorang insinyur muda yang baru lulus dari perguruan tinggi untuk mencari sumber asal pengganggu ini.
Jansky terlebih dahulu ingin tahu persis dari mana arah gangguan ini berasal. Oleh karena itu, dibuatlah suatu susunan antena (antenna array) dari pipa-pipa logam. Pada tahun 1932, salah satu sumber utama gangguan ini akhirnya berhasil dikenali, yaitu badai petir. Namun demikian,bahkan ketika badai petir sudah mereda, gangguan ini tidak hilang sepenuhnya. Dengan mengarahkan susunan antenna ke berbagai penjuru, akhirnya Jansky menyimpulkan bahwa salah satu sumbernya ada di pusat galaksi kita, yaitu Bima Sakti.
Meskipun penemuan ini dipublikasikan secara luas, hanya sedikit peneliti yang menanggapi. Diantara yang sedikit ini adalah beberapa astronom dari Harvard. Mereka terheran-heran akan adanya sumber radiasi sekuat itu mengingat jaraknya yang begitu jauh. Mereka sama sekali tidak meragukan hasil pengamatan Jansky, masalahnya justru terletak pada teori Astrofisika saat itu.
Ditengah skeptisme kalangan ilmuwan; Grote Reber–seorang amatir radio dengan call sign W9GFZ tertarik pada bidang baru ini. Dengan menggunakan biaya pribadi tanpa bantuan teknis yang memadai, Reber berhasil membangun sebuah teleskop radio di belakang rumah ibunya. Teleskop radio pertama di dunia dengan diameter sekitar 9 meter ini berhasil digunakan untuk memetakan sumber radio ruang angkasa.
Peta Reber menunjukkan bahwa sumber radiasi bukan hanya dari pusat Bima Sakti, tetapi juga berasal dari arah konstelasi Cygnus dan Cassiopea. Hasil penelitiannya dilaporkannya kepada Chandrasekar, editor dari Astrophysical Journal. Meskipun semula banyak peneliti yang ragu-ragu, mengingat Reber bukanlah peneliti profesional, tulisan ini akhirnya diterbitkan setelah mereka melihat secara langsung teleskop radio buatan Reber.
Peta yang telah dibuat Reber masih kurang memadai untuk keperluan penentuan posisi benda langit pembangkit gelombang radio ini. Resolusi dari teleskop ini perlu ditingkatkan seratus kali lipat agar letak dan sumber radiasi dapat ditentukan dan dapat dipadukan dengan hasil pengamatan teleskop optik.
Penulis (jaket oranye) didepan teleskop radio 45 m di Nobeyama
Pada pencitraan, cara untuk meningkatkan resolusi adalah dengan memperbesar ukuran apertur. Pada teleskop biasa (optik), hal ini dilakukan dengan memperbesar diameter lensa atau cermin-cekung. Panjang gelombang daerah optik sekitar sepersejuta meter, sedangkan panjang gelombang radio yang diamati berorde meter. Untuk dapat dipakai dalam penelitian astrofisika, teleskop radio memerlukan parabola dengan diameter sedikitnya satu kilometer. Ini tentu bukan hal yang mudah ditangani.
Daftar Pustaka
- K.S. Thorne, Black Holes and Time Warps-Einstein’s Outrageous Legacy, W.W. Norton & Company
- M. Ryle, “Radio telescopes of large resolving power,” Nobel Lecture, 1974.

lida said
chiiiiiiiiiiip lah……………