Dekomposisi Sinyal dan Pencarian Basis Ideal (2)
Posted by suksmono on May 16, 2008
Penggabungan berbagai basis ortogonal menjadi sebuah kamus basis-lewat-lengkap (overcomplete) diharapkan dapat menaikkan efisiensi dekomposisi sinyal. Peningkatan kinerja sistem kompresi terjadi karena dua hal: (1) tingkat kompresi tinggi karena koefisien yang diambil hanya sedikit, dan (2) sejumlah kecil koefisien tadi sudah cukup untuk merekonstruksi sinyal secara baik. Namun demikian pencarian vektor didalam basis overcomplete dengan kriteria cacah koefisien terkecil memerlukan sumberdaya komputasi yang sangat besar. Melalui prinsip ketidakpastian, masalah ini dapat diubah menjadi optimisasi konveks yang lebih mudah dipecahkan. Syaratnya, sinyal harus bersifat sparse.
Tinjau gabungan M buah sistem basis ortogonal yang masing-masing berukuran N×N menjadi satu buah basis overcomplete
. Basis baru
; yang juga disebut sebagai dictionary (kamus basis), akan memiliki dimensi N×MN. Suatu sinyal s=[s1 s2 ... sN]T sepanjang N cuplikan dapat dinyatakan dengan berbagai macam kombinasi linier vektor-vektor basis yang ada didalam
, bahkan dari masing-masing sistem basis ortogonal
karena bersifat lengkap. Dengan pertimbangan efisiensi yang merupakan tuntutan kompresi sinyal, haruslah dipilih kombinasi yang berbentuk:
(1)
dimana adalah vektor basis didalam
. Pada penjumlahan tersebut
menyatakan bahwa komponen tersebut adalah vektor basis ke–i didalam sistem basis
. Pertimbangan efisiensi mengharuskan cacah
, yaitu
(2)
sekecil mungkin. Sebagai ilustrasi arti norm diatas , tinjau contoh perhitungan berikut ini.
Suatu dictionary
yang merupakan hasil penggabungan 2 buah basis ortogonal memiliki dimensi 4×2, dimana
,
, dan
Tiga dari empat basis didalam
ini dapat dipakai untuk menyatakan sebuah sinyal yang panjangnya dua cuplikan, misalnya
. Sinyal ini dapat terbentuk dari
, masing-masing dengan koefisien
. Dengan demikian
, sehingga
Terlihat bahwa norm diatas hanya menghitung cacah dari koefisien terpilih.
Pencarian basis representasi sinyal s didalam dengan cacah terkecil disebut sebagai masalah (P0) yang dapat dinyatakan sebagai optimisasi berikut:
(3)
Mengingat ada sejumlah tak-berhingga solusi dari sistem persamaan linier yang underdetermined, apakah nilai minimum ini dapat ditemukan? Untuk pasangan basis waktu-frekuensi, Donoho memberikan batasan supaya pencarian menemukan solusi yang unik dengan menggunakan prinsip ketidakpastian sebagai berikut.
Teorema 1. Jika s(n) adalah sinyal waktu diskrit sepanjang N cuplikan yang memiliki Nt buah support (koefisien tak-nol), sedangkan S(k) adalah transform Fourier sinyal tersebut yang memiliki Nw buah support, maka
atau
(4)
Jika cuplikan yang bernilai tak-nol (support) dari sinyal di kedua wilayah kurang dari setengah batas prinsip ketidakpastian diatas, maka P0 akan memiliki solusi yang unik.
Teorema 2. Tinjau sinyal s(n) yang tersusun dari himpunan T vektor basis kawasan waktu dan himpunan
basis dari kawasan frekuensi. Jika
(5)
maka P0 akan memiliki solusi yang unik. Sementara itu akan ada sinyal s(n) lain sedemikian hinggadan P0 akan memiliki solusi yang tidak unik.
Pada teorema ini, notasi |.| menyatakan kardinalitas atau banyaknya anggota himpunan. Donoho menunjukkan hasil diatas dengan meninjau kasus fungsi ekstremal sisir Dirac (Dirac comb) yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk N bilangan kuadrat sempurna (perfect square), misalnya 4, 9, 16, … dst, sisir Dirac memiliki support sebesar di kawasan waktu maupun kawasan frekuensi. Ini berarti bahwa sebuah sisir Dirac dapat dinyatakan sebagai
buah vektor basis impuls atau
buah basis Fourier, sehingga representasinya didalam basis gabungan impuls-Fourier tidaklah unik. Akibatnya solusi dari P0 juga tidak unik. Sebaliknya, jika jumlah support-nya kurang dari
, maka akan hanya ada satu buah solusi saja, sehingga solusi P0 akan bersifat unik.
Meskipun solusinya unik, memecahkan masalah P0 bukanlah hal yang mudah. Untuk mengatasi hal ini, Chen dan Donoho mengajukan teknik Basis Pursuit, yaitu dengan menggantikan P0 dengan optimisasi P1 sebagai berikut:
(6)
Keberadaan solusi P1 memerlukan batasan support sinyal didalam yang lebih kecil lagi, yaitu kurang dari setengah batas P0. Untuk basis waktu-frekuensi, ketentuan ini dinyatakan dalam teorema berikut.
Teorema 3. Untuk sinyal s seperti pada Teorema 2, jika
maka solusi dari P1 adalah unik, yang juga merupakan solusi unik untuk P0. Sementara itu, ada sinyal yang jikadimana P1 memiliki solusi yang tidak unik.
Sinyal dengan support dibawah batas ketentuan P1 ini disebut sebagai sinyal sparse karena dapat dibentuk hanya dari sejumlah kecil vektor basis didalam . Secara singkat dapat dirangkum sebuah hasil penting berikut ini:
Jika suatu sinyal s bersifat sparse dalam kawasan waktu-frekuensi, maka dekomposisinya bersifat unik dan algoritma Basis Pursuit atau P1 akan dapat menemukannya.
Bagaimana dengan pasangan basis selain waktu-frekuensi? Pada tulisan sebelumnya dikatakan bahwa prinsip ketidakpastian di sebarang kawasan telah diperumum oleh Elad dan Bruckstein dengan memasukkan faktor koherensi antara sistem basis yang secara konsisten akan kembali menjadi WHUP jika kedua basis adalah pasangan waktu-frekuensi. Dasar pemikiran ini dipakai oleh Elad-Bruckstein maupun Donoho-Huo untuk menghasilkan teorema keunikan dari solusi P1 berikut.
Teorema 4. Andaikan
adalah gabungan kedua basis. Jika suatu sinyal waktu diskrit s dapat dinyatakan sebagai
dengan
memenuhi syarat
(7)
makaadalah solusi unik dari P1 dan juga sekaligus merupakan solusi unik dari P0.
Dalam bahasa yang kurang-teknis, teorema ini mengatakan bahwa suatu sinyal s yang terbentuk dari kombinasi linier vektor-vektor basis didalam kamus-basis dapat ditemukan vektor basis penyusunnya dengan memecahkan masalah optimisasi (P1), asalkan jumlah vektor basis penyusun sinyal ini kurang dari nilai tertentu.
Seberapa besar signifikansi perubahan optimisasi P0 menjadi P1? Meskipun sekilas optimisasi ini hanya mengubah norm dari l0 menjadi l1, perubahan yang terjadi sangat besar. Saat ini, kebanyakan algoritma optimisasi didalam pengolahan sinyal justru menggunakan kriteria atau fungsi biaya kuadratis yang tak lain adalah l2. Penjelasan diatas bahkan menginginkan pencarian solusi ideal dengan kriteria l0. Dari sudut pandang pencarian ruang solusi, optimisasi dengan kriteria l2 dan l1 bersifat konveks, sedangkan l0 bukan konveks. Algoritma untuk mencari solusi dari optimisasi konveks yang efisien telah banyak tersedia. Transformasi dari masalah l0 menjadi l1 ini disebut juga sebagai proses konveksifikasi.
Salah satu contoh sederhana didalam statistik mengenai berbagai norm ini adalah perhitungan mencari nilai tengah dari populasi. Meminimumkan nilai kesalahan kuadrat terkecil, yang tak lain adalah l2, akan menghasilkan nilai mean cuplikan, sedangkan jika yang diminumkan adalah nilai absolut kesalahan atau l1, solusinya akan berupa median. Pada pengolahan sinyal atau citra dijital, para peneliti menemukan bahwa tapis median lebih kokoh (robust) terhadap derau jika dibandingkan dengan tapis mean. Analogi yang sama dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa P1 ini memiliki peranan yang sangat penting dalam pencarian basis sinyal yang ideal.
Referensi
[1]. M. Elad and A.M. Bruckstein, “A generalized uncertainty principle and sparse representation in pairs of basis,” IEEE Trans. Info. Theory, 49. 2558-3567.
[2]. S.S. Chen, D. Donoho, and MA Saunders, ”Atomic decomposition by basis pursuit,” SIAM J. on Scientific Computing, 20(1):33-61, 1999.
[3]. DL Donoho & PB Stark, ”Uncertainty principles and signal recovery”, SIAM J. on Applied Math., 49(3):906-31, 1989.
[4]. DL Donoho & X. Huo, Uncertainty Principles and Ideal Atomic Decomposition, Tech. Report, Stanford University.
suksmono said
Posting kali ini tanpa Matlab, sebagai bentuk protes pembatalan hari libur Senin 19 Mei 2008 minggu depan, he..he…’nggak ding
A.D Setiawan said
Pak mau tanya: kalau koherensi antara matrik pengukuran dan matriks basis tidak sama dengan satu, artinya keduanya tidak fully incoherence apa akibatnya? Apakah basis pursuit masih bisa menemukannya dan sampai batas berapa harga koherensi agar si basis pursuit dapat menemukan solusi yang unik?
suksmono said
Persamaan (7) dalam T.4 justru mengindikasikan bahwa semakin rendah
, akan semakin “baik”, dalam arti, sinyal dengan komponen beragam dapat dicari vektor basisnya. Batasan dalam teorema tsb strict, kalau nilai (in-)koherensi hanya satu, sinyal yang mampu di-dekomposisi secara unik ya hanya sinyal yang terdiri dari satu komponen basis
. Krg lbh begitu tafsirannya.