Chaotic Pearls

Lamunan dari seberang GKU lama …

Urban Legend

Posted by suksmono on April 16, 2008

Menurut salah satu sumber pustaka di internet, urban legend adalah bentuk cerita rakyat (folklore) atau mitos modern yang berkembang dalam suatu masyarakat. Salah satu contoh urban legend di tanah air, yang cukup terkenal, barangkali adalah “Si Manis Jembatan Ancol”, atau “Suster Ngesot”, dan mungkin masih banyak yang lain lagi. Kali ini saya ingin membahas salah satu urban legend yang terkait dengan dunia pendidikan.

Apakah pembaca pernah menonton film “Goodwill Hunting” yang dibintangi oleh Matt Damon dan Robin Williams? Film ini bercerita tentang seorang jenius yang tidak pernah menempuh pendidikan formal tapi jagoan Matematika, dan pergulatannya dalam memilih jalan hidup. Dalam film ini, sang tokoh yang berprofesi sebagai janitor sanggup mengerjakan soal-soal yang oleh seorang professor di MIT disebut sebagai unsolved problems.

Saya beberapa kali memutar potongan film ini pada perkuliahan EL2009-Matematika Diskrit, sekedar ingin menunjukkan pada mahasiswa saya bahwa kalau mereka menyimak kuliah dengan baik, mereka bisa membantu para mahasiswa MIT ini untuk memecahkan “unsolved problems”; karena memang ternyata ini hanyalah soal biasa dalam teori graf, menyangkut matriks adjacency, walks didalam graf, dan generating function … namanya juga film :) .

Barangkali kita jadi bertanya-tanya, apakah benar ada manusia jenius yang demikian ini? Saya tadinya menduga film ini terinspirasi oleh matematikawan India yang tidak berpendidikan formal, yaitu Srinivasa Ramanujan. Belakangan ternyata sumber utama cerita ini, terutama bagian prolog-nya, berasal dari kisah Matematikawan penggagas metoda simpleks dalam Linear Programming, yaitu George B. Dantzig. Ceritanya kurang lebih seperti ini.

Pada tahun 1939 Dantzig masuk program doktoral di Universitas Berkeley. Pada suatu perkuliahan yang diselenggarakan oleh Neyman, Dantzig terlambat masuk ke kelas. Dia melihat ada dua soal yang dituliskan di papan tulis dan mengira ini adalah pekerjaan rumah untuk kuliah tsb. Kemudian soal ini dibawa pulang dan dikerjakan. Tidak seperti biasanya, ternyata soal ini sedikit lebih sulit hingga Dantzig terlambat memasukkan solusi “PR” ini. Selang beberapa hari kemudian, dengan minta maaf karena merasa terlambat, PR diserahkan ke Neyman. Karena sedang tidak konsen dengan masalah PR—barangkali juga bingung karena tidak merasa memberi tugas rumah, Neyman menyuruh meletakkan pekerjaan itu ke mejanya yang dipenuhi kertas berserakan. Meskipun enggan karena takut keselip diantara tumpukan berkas, Dantzig meletakkan solusi “PR” tersebut ke meja.

Yang tidak diketahui oleh Dantzig, ternyata soal yang dikira PR tadi adalah (contoh) dua buah unsolved problems dalam bidang Statistik. Tentu saja Neyman tidak akan berani memberikan soal ini sebagai PR untuk mahasiswanya. Setelah diperiksa, secara ajaib, solusi yang diberikan oleh Dantzig benar, hingga akhirnya Neyman menyarankan untuk mempublikasikan solusi PR ini sebagai makalah jurnal. Disamping itu, solusi kedua soal itu dibundel menjadi satu dan jadilah disertasi (dan berhasil dipertahankan di Universitas Berkeley) dari Dantzig yang berjudul:

I.Complete Form of the Neyman-Pearson Lemma; II. On the Non-Existence of Tests of “Student’s” Hypothesis Having Power Functions Independent of Sigma, Ph.D. Dissertation, Dept. of Math, Univ. California at Berkeley.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini. Yang pertama, bahkan dari kegiatan paling sederhana –yaitu perkuliahan, jika dilakukan secara serius, mahasiswa dapat menghasilkan penemuan yang luar biasa. Yang kedua, betapa dosen yang benar-benar tahu “state-of-the art” bidang ilmunya dapat memicu mahasiswa untuk berkreasi. Yang ketiga, dengan melihat judul disertasi, kita bisa melihat apakah yang sebenarnya diinginkan dari sebuah disertasi. Mungkin ini contoh di suatu bidang ilmu yang sangat spesifik, yaitu Matematika. Namun demikian, nilai-nilai dalam kisah ini, saya yakin, dapat diterapkan di semua bidang ilmu lainnya.

Kembali kedunia nyata. Tidak seperti Will Hunting yang memilih untuk mengejar kebebasan hidup dan menyia-nyiakan bakatnya, Dantzig sepenuhnya menekuni bidang Matematika. Meskipun Nobel Ekonomi tahun 1975 untuk Linear Programming diberikan kepada LV Kantorovich dan TC Koopmans “for their contributions to the theory of optimum allocation of resources”, Dantzig tetap menjadi legenda. Panitia Nobel menganggap karya-karya Dantzig terlalu Matematis.

3 Responses to “Urban Legend”

  1. andika said

    horeeee, akhirnya mulai ngeblog! tak gentar atas KRMT yang berkomentar? ;)

  2. andriyan said

    Iya, ini gara-gara TQ dan AI … :)
    Nge-blog termasuk Tridarma PT, pengabdian pada masyarakat, bek’e ?

  3. Zener said

    Pak saya mau tanya ini film keluarnya tahun berapa yah????? karena sepertinya aku belum menemukan ini film. hihihihihi.

    terima kasih yah pak. pemberitahuannya ke email saya saja yah.
    terima kasih.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>