Chaotic Pearls

Lamunan dari seberang GKU lama …

Masih tentang peringkat perguruan tinggi

Posted by suksmono on November 6, 2009

Berita mengenai peringkat perguruan tinggi (PT) belakangan ini mulai marak kembali, terlebih setelah kontroversi naik/turun-nya peringkat beberapa PT papan atas di tanah air diliput oleh surat kabar nasional. Selama ini masyarakat luas mengenal dua macam sumber atau versi peringkat, yaitu Times Higher Education/THE-QS dan Webometrics. Sebuah perguruan tinggi bisa menempati posisi berbeda pada kedua jenis peringkat tersebut karena aspek yang dinilai juga tidak sama.

Namun demikian, sebenarnya ada peringkat ketiga yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua macam peringkat tsb, yaitu peringkat versi ARWU (Academic Ranking of World Universities). Masyarakat kita kurang mengenal versi yang terakhir ini, padahal sistem penilaian yang dipakai justru lebih menunjukkan kinerja akedemik yang sesungguhnya dari sebuah PT.

PT masa kini tidak bisa lepas dari kegiatan penelitian. Ilmu pengetahuan berawal dari adanya penemuan dan penemuan hanya bisa terjadi jika ada kegiatan penelitian. Salah satu indikator yang menunjukkan kinerja penelitian dari sebuah PT adalah jumlah publikasi. Seperti halnya nilai A, B, C, dst yang diperoleh seorang mahasiswa, indikator nilai menunjukkan seberapa baik kinerja dari berbagai sisi, misalnya ketekunan, komitmen, efisiensi belajar, kecerdasan dst.

Untuk mengukur nilai “kekayaan intelektual” dari beberapa PT dunia, dan membandingkannya dengan yang dimiliki PT di tanah air, kita bisa melihat jumlah publikasi-nya.  Berikut ini gambaran kasar data kumulatif beberapa perguruan tinggi di dunia (November 2009) dan peringkatnya dalam 500 PT terbaik versi ARWU 2009  yang diperoleh dari Scopus:

  • Peringkat 10 besar: ~ 94.000 makalah.
  • Peringkat 90-100:  ~ 40.000 makalah
  • Peringkat terakhir: ~15.000 makalah

Sebagai perbandingan, perguruan tinggi paling produktif di tanah air  (per 3 Nov 2009) hanya memiliki 1.234 makalah. Melihat angka ini, kita bisa maklum mengapa belum ada satupun PT kita yang berhasil masuk kedalam daftar peringkat ARWU. Fakta ini juga menyisakan sebuah pertanyaan: Benarkah perguruan tinggi kita telah mencapai kelas dunia?

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Ramalan: yang tepat dan yang meleset

Posted by suksmono on October 6, 2009

Setelah kemaren Thomson Reuters sukses memprediksi pemenang Nobel 2009 untuk bidang Fisiologi dan Kedokteran, beberapa menit yang lalu, prediksi-nya untuk bidang Fisika meleset. Pemenang kali ini adalah penemu serat optik dan kamera dijital (CCD).

Tapi itu bisa dimaklumi. Menurut versi Thomson, kandidat bidang Fisika tahun ini berlatar belakang Komputasi/ Teori Informasi Kuantum, Meta Material, dan Fenomena Kuantum Dasar. Menurut saya, impak untuk bidang-bidang tersebut belum nampak. Lagipula, cukup mengherankan bahwa kandidat untuk bidang pertama tidak memasukkan  David Deutsch, peletak dasar komputasi kuantum.

Karena CCD bisa dianggap termasuk dalam bidang imaging, sepertinya saya harus siap-siap nge-blog lagi …  :) .

Posted in Uncategorized | 1 Comment »

Beyond Digital

Posted by suksmono on June 16, 2009

Besok pagi saya diminta panitia dies untuk memberikan presentasi pada konferensi rICT2009, dalam rangka Dies Emas ITB. Saya mencoba untuk menyajikan makalah mengenai perkembangan baru dari pengolahan sinyal/teori informasi dan kemungkinan impaknya pada peralatan elektronika yang akan datang. 

beyond_digital

Beyond Digital: Compressive Sampling and The (Near) Future of Electronics

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

TWR: radar penembus dinding

Posted by suksmono on June 11, 2009

Pameran Hardiknas 2009 yang lalu telah diselenggarakan di Sabuga-ITB. Pada kesempatan ini, STEI menampilkan stand yang berisi radar maritim ISRA (kerjasama LIPI-IRCTR), Radiosonde, dan radar penembus dinding (TWR/Through Wall Radar).

 stand_radar

Donny & Tony: programmer yang merangkap  menjadi penjaga stand pameran

 

demo-twr

Tommi mengoperasikan TWR, Pak Bayu pura-pura jadi orang

Perangkat dasar TWR sebenarnya mirip dengan radar penembus permukaan /GPR, hanya saja pengolahan sinyal ditekankan pada hal-hal tertentu; mis. deteksi gerakan benda di balik dinding. Jika sudah dilengkapi kemampuan pengarahan berkas, yang sekarang sedang di teliti di STEI, radar ini akan berfungsi seperti USG; pengguna dapat melihat benda-benda di balik ruang lain yang terhalang dinding.

Posted in Uncategorized | 2 Comments »

Jovianists

Posted by suksmono on June 3, 2009

Sekitar dua tahun yang lalu, Observatorium Bosscha mulai mencanangkan program teleskop radio multiwavelength untuk melengkapi instrumen pengamatan benda langit pada daerah gelombang radio. Sebelumnya telah datang satu terminal SRT (Small Radio Telescope) buatan MIT-Haystack, dengan harapan kedepan dapat dilengkapi dengan teleskop buatan sendiri hingga memiliki kemampuan pencitraan interferometry. 

 

JOVE_1_Medium

Sebagai tahap awal, bekerjasama dengan Lab Telekomunikasi Radio dan Gelombang Mikro,  kelompok peneliti ini mulai merealisasikan teleskop radio sederhana yang bekerja pada frekuensi 20.1 MHz untuk mengamati fenomena pancaran gelombang radio yang berasal dari planet Jupiter dan Matahari.  

 

JOVE_2_Medium

Setelah ujicoba berhasil, dalam jangka dekat Bosscha  akan membangun satu buah stasiun penerima lagi untuk ujicoba interferometri. Kedepan diharapkan teleskop ini dapat menjadi salah satu test-bed kegiatan riset radio-astronomy maupun pencitraan interferometry.

Posted in Uncategorized | 4 Comments »

Radar Kompresif Dipamerkan pada Seminar Radar Nasional 2009

Posted by suksmono on May 1, 2009

Hari Kamis tanggal 30 April 2009, LIPI bekerjasama dengan ITB menyelenggarakan Seminar Radar Seminar III di Hotel Savoy Homann, Bandung. Pada kesempatan ini prototip radar SFCW-GPR (700-1400 MHz) dengan kemampuan kompresif dipamerkan. Sebelumnya, telah dilakukan ujicoba scanning radar di LTRGM-STEI ITB, baik dengan loopback maupun antena-ke-antena. Menurut Prof. Leo P. Ligthart, yang saat ini sedang melakukan kunjungan ke Indonesia, radar kompresif berpotensi membuat terobosan baru di bidang radar, khususnya radar jenis SFCW.

Seminar Radar 2009: P. Koes dna Tommi

Pak Koes dan Tommi menjaga stand pameran

Prototip Radar SFCW

Prototip Radar Kompresif 700-1400 MHz

Radar penembus permukaan (GPR/Ground Penetrating Radar) memiliki berbagai aplikasi sipil dan militer yang luas. Dalam bidang sipil, radar ini dipakai pada eksplorasi geofisika untuk mencari batubara atau sumber air;  dalam arkeologi untuk mencari situs purbakala yang terbenam dibawah tanah; dan juga untuk mendeteksi keretakan beton pada bangunan, kerusakan jalan raya atau jembatan, serta menentukan lokasi pipa,  kabel, atau utulitas di bawah tanah. Pada bidang militer, radar penembus permukaan berguna untuk mencari ranjau, tempat penimbunan senjata, ruang dibawah tanah, maupun untuk mendeteksi musuh dibalik dinding.

Sejak awal tahun 2000-an, IRCR-TU Delft berusaha meningkatkan kecepatan dari SFCW-GPR, agar dapat bersaing dengan radar impuls. SFCW memiliki banyak keunggulan dalam berbagai hal dibanding sistem impuls, kecuali satu kelemahan dalam kecepatan akuisisi data. Peneliti di IRCTR berusaha mengatasi hal ini, antara lain dengan membuat radar 8 kanal yang bekerja secara serempak. Inovasi baru melalui penginderaan kompresif (Compressive Sensing) memberi harapan baru berhasilnya program ini.

Posted in Applications, Uncategorized | Leave a Comment »

Pencuplikan kompresif jika rapat spektral daya sinyal diketahui

Posted by suksmono on April 14, 2009

Salah satu jalur penelitian dalam CS (Compressive Sensing/Compressive Sensing) berhubungan dengan upaya peningkatan kinerja; baik  berupa hasil rekonstruksi yang lebih baik dan/ atau jumlah cuplikan yang lebih sedikit. Ini dilakukan, antara lain, dengan memanfaatkan pengetahuan tentang sifat dari sinyal atau prior.

Bagi seorang praktisi CS,  salah satu pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab adalah:  “Jika rapat spektral daya dari sebuah sinyal diketahui dan jumlah cuplikan maksimum yang diperbolehkan dibatasi, bagaimana cara memilih lokasi titik cuplikan yang memberikan kinerja obyektif CS yang terbaik?”

Berdasarkan hasil penelitian, jika lokasi cuplikan mengikuti sebaran energi, ternyata kinerja rekonstruksi sinyal dapat ditingkatkan—atau, dengan persyaratan kinerja rekonstruksi yang diberikan, jumlah cuplikan yang diperlukan menjadi jauh lebih sedikit. Hasil ini dapat dipakai untuk mempercepat proses pengumpulan data pada radar SFCW.

Posted in Compressive Sensing | Leave a Comment »

Compressive VLBI ?

Posted by suksmono on April 3, 2009

Beberapa waktu yang lalu saya pernah memposting CS/ Compressive Sensing dan juga pencitraan sintesis VLBI. Jika pembaca bertanya-tanya, apakah CS bisa dipakai dalam VLBI, maka sekarang kita tahu bahwa jawabnya adalah YA.

Direct inversion of incomplete visibility samples in VLBI (Very Large Baseline Interferometry) radio telescopes produces images with convolutive artifacts. Since proper analysis and interpretations of astronomical radio sources require a non-distorted image, and because filling all of sampling points in the uv-plane is an impossible task, image deconvolution has been one of central issues in the VLBI imaging. Up to now, the most widely used deconvolution algorithms are based on least-squares-optimization and maximum entropy method. In this paper, we propose a new algorithm that is based on an emerging paradigm called compressive sensing (CS). Under the sparsity condition, CS capable to exactly reconstructs a signal or an image, using only a few number of random samples. We show that CS is well-suited with the VLBI imaging problem and demonstrate that the proposed method is capable to reconstruct a simulated image of radio galaxy from its incomplete visibility samples taken from elliptical trajectories in the uv-plane. The effectiveness of the proposed method is also demonstrated with an actual VLBI measured data of 3C459 asymmetric radio-galaxy observed by the VLA (Very Large Array).

Lengkap-nya ada di server lokal atau di link arXiv

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

A-Scan hari ini

Posted by suksmono on February 27, 2009

Sore ini, beberapa anggota tim GPR kompresif (Tomy, Tony, dan Pak Koes) telah berhasil menghidupkan komponen-2 utama dan melakukan loop-back test. Berikut ini hasil rekonstruksi A-scan-nya:

ascan800_14002

Tetap semangat ya.  Acara ngoprek kita teruskan minggu depan :)

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Draft Buku CS

Posted by suksmono on January 31, 2009

Akhirnya,

Saya merasa tidak ahli dalam menulis buku, jadi mohon maaf jika ebook tentang compressive sensing yang saya susun sangat jauh dari sempurna. Buku itu saya pakai sebagai bahan untuk mengajar ET6083-Topik Khusus Pengolahan Sinyal, mudah-mudahan saya bisa memperbaiki selama semester ini.

Cheers,

Andriyan

Posted in Uncategorized | 9 Comments »