Pada dasarnya, radar bekerja dengan cara mengirimkan impuls gelombang elektromagnetik (EM) dan kemudian menangkap gema-nya. Pengiriman impuls dapat dilakukan langsung dalam kawasan waktu atau secara tak langsung dengan mensintesa gema radar pada kawasan frekuensi. Tulisan ini menjelaskan prinsip dasar dari radar penembus permukaan dengan menggunakan teknik sintesa frekuensi atau SFCW-GPR (Stepped-Frequency Continuous Wave-Ground Penetrating Radar). Hubungan impuls dalam kawasan waktu dan frekuensi melalui transformasi Fourier merupakan dasar dalam merancang radar jenis ini.
1. Pendahuluan
Radar penembus permukaan (GPR/Ground Penetrating Radar) adalah suatu alat pencitra gelombang elektromagnetik (EM) yang mampu melihat benda-benda di bawah permukaan tanah atau dibalik dinding. Desain GPR sangat bergantung pada tujuan aplikasi; GPR untuk mencitra benda dibawah permukaan dalam (mis. air) akan berbeda dengan yang akan dipakai untuk melihat benda di permukaan dangkal (mis. ranjau). Disamping itu, kebutuhan resolusi juga akan menentukan persyaratan desain dari radar.
Secara prinsipil ada dua macam teknologi pancaran radiasi EM yang bisa dipakai untuk membuat radar, yaitu pancaran impuls dan pancaran gelombang kontinyu. Tulisan ini akan menjelaskan GPR yang dibuat berdasarkan prinsip kedua, yakni radar dengan teknik SFCW (Stepped-Frequency Continuous Wave).
Untuk kepentingan praktis tertentu yang memerlukan resolusi tinggi, durasi impuls (efektif) yang diperlukan haruslah sangat singkat (sampai orde sub-nano detik). Sumber impuls yang demikian sulit untuk dibuat/ dicari, sangat mahal, memerlukan rangkaian RF yang tidak sederhana, dan perlu penguat daya yang tidak mudah dibeli. Masalah ini dapat diatasi dengan teknik SFCW, meskipun akan meningkatkan waktu akuisisi data dan pengolahan sinyal. Teknik multipleksing ruang-frekuensi, dimana beberapa frekuensi dapat dipancarkan secara serempak pada beberapa titik koordinat spasial sekaligus dapat dipakai sebagai pilihan dalam mengatasi masalah kecepatan pencitraan. Disamping itu, perkembangan mutakhir dari teknik pencitraan kompresif juga menjanjikan solusi bagi masalah yang sangat mendasar ini.
2. Prinsip Kerja dan Geometri Pencitraan GPR
Citra benda yang diperoleh sistem radar pada dasarnya merupakan sekumpulan pantulan gelombang EM sebagai fungsi dari posisi dan sifat benda pemantul. Untuk sebuah radar ideal, impuls radar dapat dianggap sebagai suatu fungsi delta Dirac
, seperti yang dilukiskan pada Gb.1: (a) skema pencitraan GPR dan (b) deretan gema impuls yang diterima sistem radar. Bagian pengirim (Tx) memancarkan impuls
, kemudian impuls akan mengenai objek dimana sebagian gelombang akan dipantulkan kembali dan akhirnya sampai ke sistem penerima (Rx). Sinyal yang diterima ini bisa dinyatakan sebagai
. Karena kecepatan gelombang EM dalam medium tertentu telah diketahui, maka jarak antara antenna ke benda dapat dihitung berdasarkan waktu tunda.

(a)

(b)
Gb.1 Prinsip radar: (a) geometri pencitraan GPR dan (b) A-scan ideal
Data pantulan untuk satu titik pencitraan akan berupa suatu fungsi waktu yang menyatakan letak dan kekuatan pemantul sepanjang perjalanan gelombang. Bentuk data radar yang paling mendasar ini disebut sebagai sapuan jenis-A atau A-scan. Untuk kasus impuls Dirac, pantulan ideal akan berupa impuls Dirac yang tertunda dan dilemahkan, seperti yang diperlihatkan pada Gb.1.b. Jika penyapuan dilakukan sepanjang suatu garis lurus, akan diperoleh sekumpulan A-scan yang menyatakan letak-letak pemantul pada kedalaman tertentu sepanjang garis. Untuk pemantuk berupa benda titik, profil pantulan akan berbentuk hiperbola tertelungkup, seperti diperlihatkan pada Gb.2. Hasil penyapuan yang demikian disebut sebagai B-scan. Jika B-Scan dilakukan berkali-kali sehingga meliputi suatu bidang datar, maka hasilnya adalah gambaran dimensi tiga yang disebut sebagai C-scan.

Gb.2 Kurva hiperbola yang dihasilkan oleh B-scan
Pada kenyataanya, impuls delta Dirac tidak mungkin dapat diperoleh karena beberapa alasan. Yang pertama adalah keterbatasan rentang frekuensi kerja dari peralatan. Sebagai akibatnya akan terjadi pelebaran impuls sehingga membentuk suatu fungsi Gaussian. Disamping itu, antena juga berfungsi sebagai diferensiator. Ini bisa difahami karena komponen arus searah (DC) dari sinyal tidak mungkin disalurkan antenna tanpa kontak langsung dengan medium dan tanpa pembentukan rangkaian tertutup. Dengan demikian, keluaran dari antenna pemancar akan berupa turunan pertama dari fungsi Gaussian, yang biasa dikenal sebagai impuls monocycle. Sinyal monocycle dalam kawasan waktu dan frekuensi dilukiskan pada Gb.3.
Gb.3 Hubungan waktu-frekuensi pada sinyal monocycle
Berdasarkan penjelasan sebelumnya dan mengacu pada Gb.3, terlihat bahwa sebuah impuls dapat dibangkitkan melalui dua cara, yaitu: (1) pembangkitan pada kawasan waktu, dan (2) pembangkitan pada kawasan frekuensi. Cara (1) disebut juga cara langsung, sedangkan cara (2) adalah cara yang tidak langsung dengan sintesa tanggapan frekuensi. Prinsip yang dipakai pada cara (2) ini adalah dualitas dari sinyal dalam kawasan waktu dan frekuensi melalui transformasi Fourier.
Tinjau suatu fungsi waktu atau sinyal kontinyu s(t). Penguraian sinyal ini kedalam komponen frekuensi dilakukan dengan transformasi Fourier sebagai berikut:
(1.a)
(1.b)
dimana
adalah frekuensi (angular), sedangkan
adalah bilangan imajiner. Persamaan (1.a) disebut sebagai persamaan analisis, sedangkan persamaan (1.b) adalah persamaan sintesis.
Teknik SFCW berhubungan langsung dengan sintesis Fourier. Dalam hal ini, sinyal s diperoleh dengan terlebih dahulu mengukur nilai S sebagai fungsi frekuensi. Karena pada umumnya S bernilai kompleks, sintesis s memerlukan magnitudo maupun fasa dari S. Kebutuhan data yang demikian berakibat langsung pada sisi implementasi, yakni, sistem deteksi sinyal harus dibuat sedemikian hingga komponen magnitudo dan fasa, atau bagian riil dan imajiner bisa didapatkan. Perangkat yang mampu melakukan pengukuran sinyal kompleks ini tak lain adalah pen-demodulasi kuadratur (I/Q demodulator). Setelah S diperoleh, maka secara prinsipil sinyal s(t), yaitu sinyal A-scan, dapat ditentukan dari proses inversi Fourier dari persamaan (1.b).
3. Teknik Sintesa Frekuensi untuk Radar
Pada kenyataanya, nilai S tidak bisa diperoleh untuk seluruh frekuensi dalam kawasan waktu-kontinyu, melainkan hanya untuk sejumlah berhingga dari titik pengamatan. Ini berarti bahwa data S hanya dapat diperoleh untuk sekumpulan frekuensi yang berubah secara diskrit.
Dengan demikian, proses yang sebenarnya lebih sesuai untuk memodelkan sistem radar SFCW adalah analisis dan sintesis sinyal dengan transformasi Fourier diskrit (DFT) sbb:
(2.a)
(2.b)
Sintesa untuk membentuk impuls dilakukan dengan persamaan (2.b), sedangkan koefisien Fourier Sk yang bernilai kompleks diperoleh dari pengukuran magnitudo dan fasa gelombang pantul. Indeks k menyatakan urutan frekuensi ke-k dari sinyal. Dengan demikian, pada saat akuisisi data dilakukan, sekumpulan sinyal dengan frekuensi tertentu dipancarkan kemudian tanggapannya diukur untuk mendapatkan estimasi dari koefisien Fourier .
Gb.4 Konstruksi Dasar Sistem SFCW-GPR [1]
Diagram blok sederhana dari sistem SFCW-GPR diperlihatkan pada Gb.4. Pada gambar tersebut, sekumpulan gelombang dengan frekuensi tertentu
dibangkitkan oleh frequency synthesizer dan dipancarkan secara berurutan melalui antena UWB (ultrawideband). Penerima akan menangkap pantulan gelombang melalui antena penerima untuk di-demodulasi dengan pen-demodulator kuadratur. Hasilnya adalah sinyal Ik (inphase) dan sinyal Qk (quadrature) yang secara bersama-sama membentuk koefisien Fourier kompleks
(3)
Setelah dicuplik dengan ADC, pengolah sinyal akan merekonstruksi sinyal kawasan waktu sn dengan algoritma IDFT.
4. Pertimbangan Desain SFCW-GPR
Ada beberapa hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam merancang sistem SFCW-GPR, diantaranya adalah: lama pancaran untuk satu frekuensi tertentu, frekuensi pusat, rentang frekuensi kerja, jumlah langkah-frekuensi yang digunakan (N), separasi antar frekuensi, tingkat kuantisasi ADC, dan ketersediaan komponen. Berikut ini penjelasan singkat dari masing-masing aspek:
- Lama pancaran dan jumlah frekuensi N: kedua hal ini akan menentukan kecepatan pencitraan radar. Batas minimum-nya adalah settling-time dari pensintesis dan kecepatan ADC, sedangkan batas maksimumnya berhubungan dengan lama waktu pencitraan yang diinginkan. Jika Dt terlalu kecil, ada kemungkinan pembangkit frekuensi belum mencapai keadaan tunak. Disisi lain, jika nilainya terlalu besar, maka waktu untuk mendapatkan data akan terlalu lama. Hal terakhir harus diperhitungkan untuk menentukan kecepatan penyapuan radar.
- Rentang frekuensi kerja dan pusat frekuensi: frekuensi kerja akan sangat mempengaruhi aplikasi dari GPR. Radar dengan frekuensi pusat yang rendah akan mampu menembus permukaan yang lebih dalam. Sebaliknya, radar dengan frekuensi pusat yang tinggi lebih cocok untuk pencitraan dangkal. Lebar pita (BW) berhubungan langsung dengan resolusi, semakin tinggi BW semakin besar pula resolusinya.
- Tingkat kuantisasi ADC: hal ini akan menentukan lebar dinamika sinyal yang diperoleh. Sebagai gambaran, ADC 8 bit dapat dipakai untuk mengkuantisasi sinyal dengan lebar dinamika 41 dB, 12 bit bisa mencapai 65 dB, 14 bit mampu mengkuantisasi sinyal 77 dB, sedangkan untuk sinyal dengan lebar dinamik 89 dB memerlukan ADC 16 bit.
- Ketersediaan komponen: meskipun dari perhitungan bisa diperoleh disain yang bagus, implementasi menjadi perangkat keras sangat ditentukan oleh ketersediaan komponen di pasaran.
- Separasi antar frekuensi akan menentukan ambiguitas jangkauan (range ambiguity). Ini setara dengan PRF (pulse repetition frequency) pada radar impuls.
5. Eksperimen SFCW-GPR Dengan VNA (Vector Network Analyzer)
Pada dasarnya sebuah SFCW-GPR adalah pencitra kawasan Fourier. Sebuah citra GPR tersusun atas A-scan yang didapat dari inversi data kawasan frekuensi, yaitu koefisien Fourier kompleks untuk setiap frekuensi. Dengan demikian, perangkat SFCW-GPR bukan hanya dituntut untuk mampu mendeteksi magnitudo, tetapi juga fasa dari gelombang yang datang. Alat ukur yang bisa dipakai untuk keperluan ini adalah VNA (Vector Network Analyzer).
Konfigurasi bistatik seperti pada Gb.4 dapat dipakai untuk melakukan pencitraan, antena pertama berfungsi sebagai pemancar dan yang kedua sebagai penerima. Pada GPR-test range, antena dipasang pada penyapu elektro-mekanik tiga dimensi, tetapi penyapuan dapat juga dilakukan secara jika peralatan yang demikian tidak tersedia. VNA diatur untuk mengukur S21 dan mengeluarkan data kompleks. Sebuah komputer dapat dihubungkan ke VNA untuk mengambil dan merekonstruksi A-scan secara langsung. Jika antar-muka VNA dan komputer tidak memungkinkan pengambilan langsung, data bisa dipindahkan secara manual melalui floppy disk.
Sebelum scanning VNA dijalankan, rentang frekuensi kerja harus terlebih dahulu ditentukan. Hal ini bisa diperkirakan berdasarkan impuls atau resolusi yang diinginkan. Lebar pita yang dipakai harus berbanding terbalik dengan lebar impuls.
Setelah data S21 berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya adalah melakukan inversi Fourier dengan persamaan (2.b). Hal penting yang perlu dicatat, A-scan adalah sebuah sinyal riil. Dengan demikian hasil transformasi Fouriernya adalah sinyal kompleks yang bersifat konjugasi simetrik. Data dari S21 dari VNA hanya berisi setengah bagian dari koefisien Fourier, setengah bagian sisanya diisi dengan memanfaatkan sifat konjugasi simetrik ini. Contoh pengisian data bagian konjugasi simetrik diperlihatkan pada program Matlab diakhir tulisan.

Gambar 5. A-scan hasil pencitraan SFCW-GPR dengan VNA
Contoh hasil rekonstruksi A-scan untuk pengujian di test-range diperlihatkan pada Gb.5. Disini terlihat adanya 2 buah pantulan dominan, yang pertama berasal dari pancaran langsung yang diterima antena loop yang terbenam dalam bak pasir, sedangkan yang kedua berasal dari pantulan benda. Konfigurasi pencitraan normal dengan kedua antena berada diatas permukaan akan menghasilkan A-scan yang bentuknya berbeda. Biasanya pantulan kuat terjadi di sekitar t=0 akibat pantulan langsung dari tanah atau kebocoran dari pemancar, sedangkan pantulan lain berasal dari benda didalam tanah. Karena jarak antena ke tanah maupun jarak pemancar ke penerima tetap, pantulan kuat ini dapat dihilangkan dengan penapisan sederhana.
Daftar Pustaka
- L.P. Ligthart, Course Handout: A 3-Days Short Course on GPR, IRCTR-Delft.
- A.B. Suksmono, A. Pramudita, E. Bharata, A.A. Lestari, and N. Rachmana, “A Novel Design of the Stepped Frequency Continuous Wave Radars Based on Non-Uniform Frequency Sampling Scheme”, Proc. of ICEEI 2007, Bandung, Indonesia, pp.270-273.
Kode MAtlab
% *****************************************************
% * display A-scan: menampilkan kurva A-scan dari data S21
% ****************************************************
path(path, ‘Data\’);
% baca data, format: FREQ. ## REAL-PART ## IMAGINARY-PART
data=load(’VNA_TRACE.txt’);
N=length(data); NRows = 512; %extend seq. length
delta_t = 1/NRows; t=delta_t*(1:NRows);
dmy=zeros(NRows,1);
S21 = data(:,2) + data(:,3).*i; % Raw complex data
% filling the conjugate symmetric part of the data
trc_N = length(S21);
dmy(1) = 0; dmy(2:trc_N+1) = S21; dmy(trc_N+2:512) = 0;
dmy(NRows-trc_N+1:NRows) = conj(S21(trc_N:-1:1));
% inversi dan normalisasi
f=real(ifft(dmy)); f=f-mean(f); x=f/norm(f(:));
figure(1);plot(t,x); title(’A-scan’); xlabel(’time’);ylabel(’amplitude’);